Jumat, 22 Juli 2016

CV. Tiga Sampoerna (Escon)

Kami bergerak di bidang Pagar Beton Pager Beton Pagar Precast Pagar Bumi


Beton Mutu K-300 (Ready Mix) Campuran Beton dan kualitas jauh lebih kuat dibanding dengan cor manual dan umur beton jauh lebih lama.


Cocok untuk Perumahan, Gudang, Pabrik, Tanah kosong, Jalan Tol, dll


Ukuran Pagar :
-Panel (240 x 40 x 5 cm)

-Kolom / Tiang (340 x 16 x 18 cm Custom tergantung tinggi pagar)


T 2,0 m = Panel 5 tumpuk
T 2,4 m = Panel 6 tumpuk
T 2,8 m = Panel 7 tumpuk
T 3,2 m = Panel 8 tumpuk


Pondasi bisa memakai Pondasi Setempat atau pondasi pasangan batu (atau hanya pasang pagar saja bisa)


Harga harus di survey terlebih dahulu harga bersaing.


Siap Pasang di TEGAL, PEKALONGAN, PEMALANG, BATANG, SEMARANG, KENDAL, PATI, JEPARA, KUDUS, BLORA, SALATIGA, AMBARAWA, SOLO, KARANGANYAR, KLATEN, BANYUMAS, PURWOKERTO, CILACAP, SALATIGA, BOYOLALI, REMBANG


Karena Workshop ada 2 :


1. Kaliwungu Kendal (Semarang)
2. Kaliwuluh Karanganyar (Solo)

Bisa hub. Bp. inug di nomer 0822 1036 0193 (Telp/WA) 

Bisa hub. Bp. inug di nomer 0822 1036 0193 (Telp/WA) 
Bisa hub. Bp. inug di nomer 0822 1036 0193 (Telp/WA)  




Pagar Beton Pager Beton Pagar Precast Pagar Bumi
Pagar Beton Pager Beton Pagar Precast Pagar Bumi
Jawa Tengah TEGAL, PEKALONGAN, PEMALANG, BATANG, SEMARANG, KENDAL, PATI, JEPARA, KUDUS, BLORA, SALATIGA, AMBARAWA, SOLO, KARANGANYAR, KLATEN, BANYUMAS, PURWOKERTO, CILACAP, SALATIGA, BOYOLALI, REMBANG

Minggu, 22 Maret 2015

Presentasi Irigasi II Tentang Runoff atau Limpasan

                                      TUGAS PRESENTASI IRIGASI II
                                                      TENTANG
                                           RUNOFF = LIMPASAN




                                                 ANGGOTA KELOMPOK :

                    ANGGORO BINTANG PAKARTI                        3.12.12.2.03
                    FAJAR SUSANTO                                             3.12.12.2.07
                    IQBAL BAEHAQQI                                            3.12.12.2.11
                    NUGROHO SUSETYO HUTOMO                        3.12.12.2.16 
                    WIDI NUGROHO SINAR AJI                               3.12.12.2.20


                                                      KELAS KS - 3C



                                     POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
                                                                 2015





LIMPASAN



4.1 KOMPONEN ARUS AIR

            Ketika badai terjadi, sebagian dari curah hujan menyusup ke tanah dan beberapa bagian mungkin menguap. Sisanya mengalir sebagai lembaran tipis air di atas permukaan tanah yang disebut sebagai aliran darat. Jika ada lapisan yang relatif kedap di bawah tanah, infiltrasi Air bergerak secara lateral di permukaan tanah dan bergabung dengan aliran sungai, yang disebut sebagai underflow (Aliran bawah permukaan).

            Jika tidak ada lapisan penghambat yang menyusup di bawah tanah tersebut. Air merembes ke dalam tanah sebagai rembesan mendalam dan membangun muka air tanah (GWT atau permukaan freatik). Air tanah juga dapat menyebabkan aliran sungai, jika GWT lebih tinggi dari tingkat permukaan air sungai, menciptakan gradien hidrolik terhadap aliran. Permeabilitas tanah mengalir dibawah tanah.

            Sementara itu tiga jenis aliran mengalir berkontribusi pada aliran sungai, itu adalah aliran darat, yang mencapai saluran sungai pertama yang kemudian bersatu menjadi lebih lambat setelah beberapa jam dan aliran air tanah yang paling lambat mencapai saluran sungai setelah beberapa hari. Istilah limpasan langsung digunakan untuk aliran darat yang bersatu tersebut. Jika lelehan salju melakukan kontribusi ke sungai mengalir itu dapat dimasukkan dengan limpasan langsung (dari curah hujan). 

          Aliran permukaan langsung dapat dianalisis untuk daerah drainase yang relatif besar oleh unit Metode hidrograf dan untuk daerah yang lebih kecil dengan analisis aliran darat. Hasil limpasan langsung dari terjadinya badai tepat sebelum mempengaruhi kontribusi air tanah, yang mengambil hari atau bulan untuk mencapai sungai, kemungkinan besar tidak memiliki hubungan langsung dengan badai. Aliran air tanah ke sungai akan terus bahkan jika ada maupun tidak ada badai sebelumnya. Hal ini disebut sebagai aliran dasar dalam analisis hidrograf .
            Ketika dimulai aliran darat ( karena badai ) air mengalir menuju ke genangan air, lubang dan kolam kecil ; air ini tersimpan disebut penyimpanan depresi. Volume air di transit di aliran darat yang belum mencapai saluran sungai disebut permukaan penahanan atau penahanan penyimpanan. Porsi limpasan dalam banjir meningkat di sungai, yang diserap oleh batas-batas permeabel sungai di atas permukaan freatik normal disebut penyimpanan Bank , Gambar. 4.2.

4.2 KARAKTERISTIK TANGKAPAN
            Seluruh wilayah DAS yang permukaannya limpasan ( karena badai ) mengalir ke sungai di cekungan dianggap sebagai unit hidrologi dan disebut aliran sungai , daerah aliran sungai atau DAS wilayah sungai yang mengalir ( Gambar . 4.3 ). Garis batas , sepanjang punggung bukit topografi, memisahkan dua daerah aliran sungai yang disebut membagi drainase.

            Satu titik atau lokasi di mana semua drainase permukaan dari baskom datang bersama-sama atau konsentrat sebagai outflow dari cekungan di channel aliran disebut titik konsentrasi atau titik pengukuran, karena aliran sungai biasanya diukur pada saat ini.

            Waktu yang diperlukan untuk hujan jatuh pada titik paling jauh di daerah drainase (yaitu, di pinggiran DAS) untuk mencapai titik konsentrasi disebut waktu konsentrasi. Ini adalah variabel yang sangat signifikan seperti badai ,hanya durasi yang lebih besar dari waktu konsentrasi akan mampu menghasilkan limpasan dari seluruh yang DAS dan menyebabkan banjir intensitas tinggi
Karakteristik drainase secara fisik dapat dijelaskan oleh :
( i ) jumlah aliran 
( ii ) panjang sungai
( iii ) kepadatan arus 
( iv ) kerapatan drainase
Kepadatan arus dari aliran sungai dinyatakan sebagai jumlah aliran per kilometer persegi .
Kepadatan arus Ds = 
NS = Jumlah aliran
A  = daerah cekungan
            Kerapatan drainase dinyatakan sebagai panjang total dari semua saluran sungai ( abadi dan intermiten ) per satuan luas cekungan dan berfungsi sebagai indeks pembangunan saluran areal cekungan.
Kerapatan drainase, 
LS = Total panjang dari semua saluran sungai di lembah
            Kerapatan drainase bervariasi berbanding terbalik dengan panjang aliran darat dan menunjukkan efisiensi drainase cekungan . Nilai yang tinggi menunjukkan jaringan yang berkembang dengan baik dan padatnya limpasan menyebabkan banjir intens sementara nilai yang rendah menunjukkan limpasan moderat dan permeabilitas yang tinggi dari medan.
Rata-rata aliran lereng =  
            Horton telah menyarankan metode penentuan kemiringan daerah drainase besar, yakni, daerah dibagi menjadi beberapa grid persegi dengan ukuran yang sama. Jumlah kontur dilintasi setiap baris pengelompokan dihitung dan panjang dari garis grid adalah skala. kemudian kemiringan cekungan dihitung dengan :
S = 
S          =   kemiringan lembah
CI        =   interval kontur
Nc        =   Jumlah kontur dilintasi semua lini pengelompokan
Σ L       =   panjang total garis pengelompokan
            Garis batas sepanjang punggung bukit topografi , memisahkan dua daerah aliran sungai disebut kesenjangan drainase . Garis muka air tanah damana air miring ke bawah dari garis di kedua sisi ,disebut membagi air tanah . itu bentuk cekungan drainase secara umum dapat dinyatakan dengan :
( i ) faktor bentuk
( ii ) koefisien kekompakan
Bentuk factor Ff  = 
                    A = Wb  x Lb
Wb = lebar aksial cekungan
 Lb = panjang aksial cekungan , yaitu , jarak dari titik pengukuran ( MP ) ke titik yang terpencil di lembah 
Koefisien kekompakan Cc = 
Pb = perimeter cekungan
2 πA = lingkar area melingkar , yang sama dengan daerah cekungan . Jika R adalah jari-jari daerah lingkaran setara.
A = πR2       R = 
Keliling daerah melingkar setara = 2Πr =2π 
            Koefisien kekompakan independen dari ukuran tangkapan dan tergantung hanya di lereng .Sebuah tangkapan berbentuk kipas menghasilkan intensitas banjir yang lebih besar karena semua anak sungai yang hampir sama panjang dan karenanya waktu konsentrasi hampir sama dan kurang ,sedangkan di daerah tangkapan berbentuk pakis, saat konsentrasi lebih dan debit didistribusikan dalam jangka panjang ( Gambar . 4.4 ) 

Schumm SA (1956) menggunakan 'rasio perpanjangan (Er)', yang didefinisikan sebagai rasio diameter lingkaran area yang sama dengan cekungan ke cekungan panjang maksimum; nilai berkisar 0,4-1,0.
Miller V.C. (1953) menggunakan dimensi 'rasio bundar (Cr)', yang didefinisikan sebagai rasio dari daerah cekungan ke daerah lingkaran memiliki perimeter yang sama seperti cekungan; nilai berkisar 0,2-0,8. Karakteristik aliran sungai mempengaruhi jeda waktu dari unit hidrograf dan puncak arus (Taylor dan Scwartz, 1952).
Contoh 4.1 kontur peta baskom dibagi menjadi beberapa grid persegi dengan ukuran yang sama dengan menggambar garis horizontal dan vertikal seperti ditunjukkan pada Gambar. P4.1. Interval kontur adalah 25 m.

Jumlah persimpangan kontur dengan garis vertikal adalah 75 dan dengan garis horizontal 126. Total panjang segmen jaringan vertikal (setelah mengalikan dengan skala) adalah 53.260 m dan segmen grid horisontal 55.250 m. Tentukan kemiringan rata-rata cekungan. Solusi Slope dalam arah vertikal
Nc × C.I. 75 × 25
Sv = ΣY = 53.260 = 0,0352 m / m
Kemiringan pada arah horisontal
Nc × C.I. 126 × 25
Sx = ΣX = 55.250 = 0,0570 m / m
∴ Berarti kemiringan lembah
 S = Sv + Sx = 0,0352 + 0,0570 = 0,0461 m / m atau 4,61% 
2 2
Juga, dari persamaan Horton,
15. (C.I) N c 1,5 × 25 (75 + 126)
 S = = = 0,0695 atau 6,95%
Σ L (53.260 + 55.250)

Contoh 4.2
baskom A memiliki luas 26.560 km2, perimeter 965 km dan panjang thalweg 230 km. Tentukan:
(i)      Faktor
(ii)     bentuk,
(iii)    koefisien kekompakan, rasio elongasi, dan
(iv)    rasio bundar.

A 26560
Solusi
(i) Faktor bentuk, Ff = 2 = 2 = 0,502
Lb 230
Faktor terbalik akan memberikan 2
(ii) Kekompakan Koefisien Cc
Radius R dari daerah lingkaran setara diberikan oleh
26.560 = πR2 ∴ R = 91.9 km
      Cc = 2P πbR = 2π965 (919.) = 1,67
2R 2 (919).
(iii) rasio Pemanjangan Er = Lb = 230 = 0.8
(iv) rasio bundar Cr
Radius R 'lingkaran dari perimeter setara sebagai cekungan diberikan oleh 2πR' = 965 ∴ R '= 153,5 km
∴ Cr =


4.3 MEAN DAN KETINGGIAN MEDIAN

Ketinggian rata-rata ditentukan sebagai rata-rata tertimbang dari ketinggian antara dua kontur yang berdekatan.
Mean ketinggian cekungan drainase diberikan oleh
Σ a1 z 1
zb = Σ a1 ... (4.6)

dimana zb = berarti elevasi a1 cekungan drainase, a2 = daerah antara kontur berturut cekungan
z1, z2 = rata-rata ketinggian antara dua kontur berturut-turut
Σ a1 = A = luas DAS

daerah di atas berbagai elevasi.

Gambar. 4,5 hypsometric kurva (Contoh 4.2)
Ketinggian rata-rata adalah elevasi di daerah 50% dari tangkapan dan ditentukan dari kurva daerah-elevasi. Kurva elevasi daerah diperoleh dengan memplot elevasi kontur terhadap daerah atau persen dari luas, di atas atau di bawah elevasi, Gambar. 4.5. Kurva areaelevation juga disebut kurva hypsometric untuk cekungan dan diilustrasikan dalam contoh berikut.
Contoh 4.3 wilayah antara ketinggian kontur yang berbeda untuk cekungan Sungai Noyyil, Coimbatore (selatan India) diberikan di bawah ini. Tentukan mean dan ketinggian rata-rata untuk wilayah sungai.

Ketika GWT di atas elevasi muka air di sungai, saluran aliran air tanah, Gambar. 4.7. Aliran tersebut disebut aliran limbah. Aliran dasar sungai permukaan adalah rembesan limbah dari aliran sungai. Sebagian besar aliran terus-menerus terutama aliran limbah.
(ii) terputus dan aliran terus-menerus. Jika GWT terletak di atas dasar sungai selama musim hujan tapi turun di bawah dasar selama musim kemarau, sungai mengalir selama musim hujan (karena limpasan permukaan dan kontribusi air tanah), tetapi menjadi kering selama musim kemarau. Aliran tersebut disebut aliran intermiten.
Sementara dalam kasus aliran terus-menerus, bahkan dalam kekeringan yang paling parah, GWT tidak pernah turun di bawah dasar sungai dan karena itu mereka mengalir sepanjang tahun. Untuk pengembangan tenaga listrik aliran terus menerus adalah yang terbaik; listrik juga bisa dihasilkan dari intermiten sungai dengan menyediakan fasilitas penyimpanan yang memadai.

4.5 ISOCHRONES
Garis bergabung semua poin dalam sebuah cekungan beberapa elemen kunci dalam waktu badai, seperti mulai dari curah hujan, disebut isochrones (Gambar. 4.8). Mereka adalah kontur waktu dan merupakan garis waktu perjalanan yang sama dan mereka membantu dalam menurunkan hidrograf.




4.6 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LIMPASAN
Berbagai faktor yang mempengaruhi limpasan dari daerah aliran sungai tergantung pada
karakteristik sebagai berikut                jenis  atau sifat stormand
musim
intensitas
Lama Waktu
karakteristik badai                                         Luas wilayah (distribusi)
frekuensi
curah hujan yg
Arah gerakan badai

suhu
karakteristik meteorologi                     kelembaban
Kecepatan angin,
variasi tekanan
ukuran
bentuk
lereng
Ketinggian (elevasi)
karakteristik cekungan                         topografi
Geologi (jenis tanah)
Penggunaan lahan / vegetasi
orientasi
Jenis drainase bersih
Dekat dengan laut dan gunung
Rentang
depresi
Kolam dan tambak / danau
aliran
saluran
karakteristik penyimpanan                 Periksa bendungan (di parit-parit)
Hulu waduk / atau tangki
Dataran banjir, rawa
Penyimpanan air tanah di tembus
deposito (akuifer)

Badai intensitas rendah selama lagi berkontribusi ke tanah penyimpanan air dan menghasilkan relatif kurang limpasan. Badai intensitas tinggi atau daerah yang lebih kecil ditutupi oleh meningkatkan limpasan karena kerugian seperti infiltrasi dan evaporasi kurang. Jika ada suksesi badai, yang limpasan akan meningkat karena basah awal tanah karena curah hujan . Hujan selama musim panas akan menghasilkan lebih sedikit limpasan, sedangkan selama musim dingin akan menghasilkan lebih banyak.
Kelembaban yang lebih besar mengurangi penguapan. Distribusi tekanan di atmosfer membantu pergerakan badai. Penyimpanan salju dan khusus tanah beku sangat meningkatkan limpasan.
Puncak limpasan (jika dinyatakan sebagai cumec / km2) menurun dengan meningkatnya daerah tangkapan karena waktu yang lebih tinggi dari konsentrasi. Sebuah tangkapan berbentuk kipas menghasilkan intensitas banjir yang lebih besar dari sebuah tangkapan berbentuk pakis.
Tangkapan berbatu curam dengan vegetasi kurang akan menghasilkan lebih banyak limpasan dibandingkan dengan datar traktat dengan lebih vegetasi. Jika vegetasi lebih besar tebal penyerapan air, sehingga kurang limpasan. Jika arah badai menghasilkan hujan turun sungai yang menerima permukaan aliran, maka akan menghasilkan debit banjir yang lebih besar daripada saat terserah sungai. Jika DAS terletak di sisi orografis (sisi angin) dari pegunungan, menerima lebih besar curah hujan dan karenanya memberikan limpasan yang lebih besar.

Jika di sisi bawah angin, hal itu akan sedikit curah hujan dan jadi kurang limpasan. Demikian pula, tangkapan yang terletak pada ketinggian yang lebih tinggi akan menerima lebih banyak curah hujan dan menghasilkan limpasan yang lebih besar. Pola-subur lahan, lahan rumput, hutan lahan atau areal pertaniannya, greately mempengaruhi limpasan.

Penyimpanan dalam saluran dan depresi (lembah storage) akan mengurangi besarnya banjir. Waduk hulu, danau dan tank akan moderat besaran banjir karena Efek penyimpanan mereka. Untuk daerah aliran sungai yang memiliki deposito sebelumnya, penyimpanan air tanah dibuat sebesar mungkin, yang juga dapat menyebabkan aliran sungai dalam bentuk limpasan tertunda.

4.7 ESTIMASI LIMPASAN
Limpasan adalah bahwa keseimbangan air hujan, yang mengalir atau berjalan di atas permukaan tanah alami setelah kerugian penguapan, intersepsi dan infiltrasi. Hasil dari tangkapan (biasanya berarti hasil tahunan) adalah jumlah bersih air tersedia untuk penyimpanan, setelah semua kerugian, untuk tujuan pemanfaatan sumber daya air dan perencanaan,seperti irigasi, penyediaan air, dll Debit banjir maksimum. Ini adalah debit pada saat banjir di daerah tangkapan air, yaitu, ketika intensitas curah hujan terbesar dan kondisi daerah tangkapan mengenai kelembaban juga menguntungkan untuk limpasan .
limpasan Estimasi
Limpasan dari hujan dapat diperkirakan dengan metode berikut:
(i) rumus empiris, kurva dan tabel
(ii) metode Infiltrasi
(iii) metode Rasional
(iv) hidrograf aliran Overland
(v) metode unit hidrograf
(vi) Coaxial grafis Korelasi dan API (Lihat art. 13,4 dan Ex. 13.3 dalam Bab 13)

Metode di atas akan dibahas sebagai berikut:
(i) rumus empiris, kurva dan tabel. Beberapa rumus empiris, kurva dan tabel
berkaitan dengan curah hujan dan limpasan telah dikembangkan sebagai berikut:
Biasanya, R =α P + b                                                                          ... (4.7)
kadang-kadang, R =α Pn                                                                                                                                    ... (4.8)
di mana R = limpasan, P = curah hujan, α, b, dan n, adalah konstanta. Persamaan                                                                                               … (4.7)
memberikan plot garis lurus dikertas grafik alami saat Persamaan … (4.8) memberikan kurva eksponensial pada kertas grafik alami, Gambar. 4.9 α dan plot garis lurus di atas kertas log-log Gambar. 4,9 b; konstanta dapat diperoleh dari plot garis lurus seperti ditunjukkan pada Gambar. 4.9. Juga lihat Bab 13, dan Ex. 13,4 dengan Komputer Program-C.
Sebagai contoh, C.C. Rumus Inglis 'untuk Bombay-Deccan tangkapan (daerah Ghat)
R = 0.85P + 30,5                                                                              ... (4.9)
dan untuk dataran                                                                                       ... (4.10)
Rumus Lacey untuk Indo-Gangga polos
                  
                                                                                                         .... (4.11)

di mana F adalah faktor durasi hujan bervariasi antara 0,5 sampai 1,5 dan S adalah faktor tangkapan tergantung pada lereng dan bervariasi dari 0,25 untuk daerah datar sampai 3,45 untuk daerah perbukitan AN Rumus Khosla untuk India utara
                                                                           ... (4.12)
Formula untuk beberapa cekungan drainase di India:
Ganga basin R = 2.14 P0.64                                                             ... (4.13)
Yamuna basin (Delhi) R = 0,14 P1.1                                                          ... (4.14)
Rihand basin (UP) R = P - 1,17 P0.86                                                        ... (4.15)
Chambal basin (Rajasthan) R = 120P - 4945                                             ... (4.16)
Tawa basin (M.P.) R = 90.5P - 4800                                                          ... (4.17)
Basin Tapti (Gujarat) R = 435P - 17200                                          ... (4.18)
Dalam rumus di atas, R adalah limpasan tahunan rata-rata dalam cm, P adalah rata-rata tahunan curah hujan di cm, T adalah suhu rata-rata tahunan di ° C untuk seluruh aliran sungai.
Selain di atas, beberapa peneliti telah menyajikan hubungan curah hujan-limpasan dalam bentuk kurva dan tabel seperti
(a) persentase Binnie itu (tabel) untuk DAS di Madhya Pradesh
(b) kurva Strange dan meja untuk Bombay-Deccan DAS
(c) tabel Barlow untuk koefisien limpasan di UP
Referensi dapat dilakukan untuk beberapa irigasi India text-buku, untuk rincian dan utilitas dari kurva di atas dan tabel.
Hasil dari tangkapan dapat  bekerja dengan mengambil sekitar 75 sampai 80% dari a.a.r. dan asumsi koefisien limpasan yang cocok.
Curah hujan dari satu tahun rata-rata terendah dua pertiga sampai tiga per empat dari aar, yang dapat diambil untuk perhitungan limpasan. Perbaikan lebih lanjut atas a.a.r. adalah curah hujan diandalkan.
Catatan curah hujan tahunan yang tersedia untuk sekitar 35 tahun yang disusun dalam urutan menurun dan curah hujan dari 75 % ketergantungan , yaitu , dari tahun ke-27 dari atas diambil untuk perhitungan limpasan. Beberapa rumus empiris juga telah dikembangkan untuk memperkirakan tingkat maksimum limpasan atau Maksimum Pelepasan Banjir ( MFQ ) dan ini diberikan berdasarkan Bab - 8 pada Banjir.


( ii ) Metode Infiltrasi.
Dengan mengurangi kehilangan infiltrasi , yaitu , daerah di bawah kurva infiltrasi , dari total curah hujan atau dengan menggunakan indeks infiltrasi , yang sudah dibahas.
Metode ini sebagian besar empiris dan nilai-nilai yang diperoleh hanya berlaku ketika karakteristik curah hujan dan kondisi kelembaban tanah awal identik dengan tanah sebelumnya.
( iii ) Metode Rasional.
Pendekatan rasional adalah untuk mendapatkan hasil tangkapan dengan asumsi koefisien limpasan yang cocok .
Hasil = CAP                                                                                      ... ( 4.19 )
di mana
C = koefisien limpasan
A = daerah tangkapan
P = curah hujan  
Nilai koefisien limpasan C bervariasi tergantung pada jenis tanah , vegetasi geologi , dll
Tabel 4.3 berikut ini diberikan oleh Richards dapat diambil sebagai panduan .
Jenis Tangkapan
        Nilai C
  Batuan Kedap
         0.8–1.0
  Sedikit permeable, Kosong
         0.6–0.8
  Dibudidayakan atau ditutupi dengan  vegetasi
         0.4–0.6
  Tanah penyerap yang dibudidayakan
         0.3–0.4
  Tanah Berpasir
         0.2–0.3
  Hutan Lebat
          0.1–0.2

Dalam metode rasional, daerah drainase dibagi menjadi beberapa sub - bidang dan dengan waktu yang dikenal konsentrasi untuk subareas yang berbeda kontribusi limpasan dari masing-masing daerah ditentukan.
Pilihan nilai koefisien limpasan C untuk sub - wilayah yang berbeda merupakan faktor penting dalam limpasan perhitungan dengan metode ini.
Metode ini membagi wilayah menjadi zona yang berbeda dengan menggambar garis waktu kontur , yaitu, isochrones, diilustrasikan dalam contoh berikut.
Contoh 4.3
Hujan 4 jam intensitas rata-rata 1 cm / jam jatuh di atas jenis tangkapan daun pakis seperti ditunjukkan pada Gambar. 4.10. Waktu konsentrasi dari garis AA, BB, CC dan DD adalah 1 , 2 , 3 dan 4 jam , masing-masing, ke keadaan 0 dimana pengukuran debit dilakukan.
Nilai-nilai koefisien limpasan C adalah 0,5 , 0,6 , dan 0,7 untuk 1 , 2 dan 3 jam dari penurunan hujan masing-masing dan mencapai nilai konstan 0,8 setelah 3 jam. Untuk menentukan debit pada keadaan  0.

Gambar . 4.10 Waktu metode konsentrasi perhitungan limpasan ( Contoh 4.3 )
Contoh 4.4
Data berikut dikumpulkan untuk tangki yang diusulkan di dataran Deccan India selatan :
DAS = 1.200 ha
a.a.r. = 90 cm
Intensitas curah hujan berdurasi 1 jam dan frekuensi 35 tahun
Rata-rata limpasan koeffisien = 5 cm / jam
Seluruh tangkapan = 20 %
Tank akan diisi = 1 kali dalam setahun
Perbedaan antara tingkat maksimum air ( MWL ) dan tangki penuh
Tingkat ( FTL ) = 0,6 m
Tentukan :
( a ) hasil tangkapan dan kapasitas tangki
( b ) areal tanaman padi yang dapat diairi dari tangki
( c ) tugas air diasumsikan dan debit di kepala ke cabang
( d ) panjang bendung overfall jelas dekat salah satu sisi.
Solusi A.A.R.
hanya tersedia di 50 % dari satu tahun.
Untuk memastikan pengisi tangki di tahun kekurangan curah hujan diandalkan ≈ 75 %
dari aar = 0,75 × 90 = 67,5 cm atau 0,675 m.
Sesuai dengan hujan ini ( P ) dari 75 % ketergantungan, limpasan ( R ) dapat ditemukan dari persamaan. ( 4.10 ).
Waktu metode konsentrasi perhitungan limpasan ( Contoh 4.3 )



(iv) Overland Flow Hydrograph
Aliran ini terjadi sebagai lembaran tipis air di atas permukaan tanah (setelah badai mulai), bergabung dengan saluran sungai, dan kemudian mengalir dalam saluran ke titik konsentrasi.
Aliran darat pada dasarnya adalah sebuah aliran seragam atas permukaan yang dikembangkan oleh C.F. Izzard (1948).

Bilangan Reynolds
Re =  =
Dimana    :  V = kecepatan aliran
                   d = kedalaman seragam aliran
                   ν = viskositas kinematik air
                   q = debit per unit lebar
Analisis Aliran Laminar Overland
Percobaan menunjukkan bahwa aliran darat dapat diasumsikan laminar jika Re ≤ 1000 dan turbulen jika Re> 1000 dengan wilayah transisi dari ketidakpastian di sekitar Re = 1.000. Izzard menyarankan bahwa untuk daerah drainase persegi panjang, aliran laminar dapat diasumsikan jika                      , di mana inet adalah curah hujan bersih (cm/jam) dan l adalah panjang aliran darat dalam meter.  

(v) Metode Unit Hidrograf.
Hidrograf debit permukaan langsung diukur pada outlet daerah drainase, yang menghasilkan kedalaman unit limpasan langsung (yaitu, PNET dari 1 cm di atas seluruh area catchment) yang dihasilkan dari unit storm durasi tertentu (disebut Unit periode).

Unit Hidrograf
Teori unit hidrograf didasarkan pada asumsi sebagai berikut:
—  (i) Curah hujan bersih adalah intensitas seragam dalam durasi (yaitu, periode satuan).
—  (ii) Curah hujan bersih seragam terjadi di seluruh daerah aliran sungai.
—  (iii) Untuk daerah aliran tertentu, periode dasar hidrograf yang sesuai limpasan langsung menjadi hujan bersih dlm intensitas yang berbeda tetapi dg durasi unit yang sama, adalah konstan.
—  (iv) koordinat  hidrograf limpasan langsung karena hujan bersih dengan intensitas yang berbeda (tapi dengan durasi unit yang sama) adalah proporsional.
—  (v) Sebuah unit hidrograf mencerminkan semua karakteristik fisik cekungan basin.
Contoh Soal
Sebuah DAS kecil terdiri dari 1,5 km2 daerah yg diolah (c = 0,2), 2,5 km2 di bawah hutan (c = 0,1) dan 1 di bawah penutup rumput (c = 0,35). Ada penurunan dari 20 m dalam aliran air dari panjang 2 km. Hubungan I-D-F untuk area diberikan           , I ( cm/jam), T (tahun), t(min).
Perkirakan tingkat puncak limpasan untuk frekuensi 25 tahun!


Solusi


Rabu, 26 November 2014

PENGERTIAN DRAINASE SECARA UMUM

Drainase merupakan salah satu fasilitas dasar yang dirancang sebagai sistem guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan merupakan kompenen penting dalam perencanaan kota(perencanaan infrastruktur khususnya).
Drainase juga dapat diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas, dimana drainase merupakan salah satu cara pembuangan kelebihan air yang tidak di inginkan pada suatu daerah, serta cara-cara penaggulangan akibat yang ditimbulkan oleh kelebihan air tersebut.
Dari sudut pandang yang lain, drainase adalah salah satu unsur dari perasana umum yang dibutuhkan masyarakat kota dalam rangka menuju kehidupan kota yang aman, nyaman, bersih, dan sehat.

Sistem jaringan drainase perkotan umumnya dibagi atas 2 bagian, yaitu :
·         Sistem Drainase Mayor
Sistem drainase mayor yaitu sistem saluran/badan air yang menampung dan mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air hujan (Catchment Area). Pada umumnya sistem drainase mayor ini disebut juga sebagai sistem saluran pembuangan utama (major system) atau drainase primer. Sistem jaringan ini menampung aliran yang berskala besar dan luas seperti saluran drainase primer, kanal-kanal atau sungai-sungai. Perencanaan drainase makro ini umumnya dipakai dengan periode ulang antara 5 sampai 10 tahun dan pengukuran topografi yang detail mutlak diperlukan dalam perencanaan sistem drainase ini.
·         Sistem Drainase Mikro
Sistem drainase mikro yaitu sistem saluran dan bangunan pelengkap drainase yang menampung dan mengalirkan air dari daerah tangkapan hujan. Secara keseluruhan yang termasuk dalam sistem drainase mikro adalah saluran di sepanjang sisi jalan, saluran/selokan air hujan di sekitar bangunan, gorong-gorong, saluran drainasekota dan lain sebagainya dimana debit air yang dapat ditampungnya tidak terlalu besar.
Pada umumnya drainase mikro ini direncanakan untuk hujan dengan masa ulang 2, 5 atau 10 tahun tergantung pada tata guna lahan yang ada. Sistem drainase untuk lingkungan permukiman lebih cenderung sebagai sistem drainase mikro

Arahan dalam pelaksanaan penyediaan sistem drainase adalah :
a.      Harus dapat diatasi dengan biaya ekonomis.
b.       Pelaksanaannya tidak menimbulkan dampak sosial yang berat.
c.         Dapat dilaksanakan dengan teknologi sederhana.
d.      Memanfaatkan semaksimal mungkin saluran yang ada.
e.       Jaringan drainase harus mudah pengoperasian dan pemeliharannya
f.         Mengalirkan air hujan ke badan sungai yang terdekat.

Macam saluran untuk pembuangan air dapat dibedakan menjadi :
1. Saluran Air Tertutup
a.    Drainase Bawah Tanah Tertutup, yaitu saluran yang menerima air limpasan dari daerah yang diperkeras maupun yang tidak diperkeras dan membawanya ke sebuah pipa keluar di sisi tapak (saluran permukaan atau sungai), ke sistem drainase kota.
b.    Drainase Bawah Tanah Tertutup dengan tempat penampungan pada tapak, dimana drainase ini mampu menampung air limpasan dengan volume dan kecepatan yang meningkat tanpa menyebabkan erosi dan kerusakan pada tapak.
2. Saluran Air Terbuka
Merupakan saluran yang mengalirkan air dengan suatu permukaan bebas. Pada saluran air terbuka ini jika ada sampah yang menyumbat dapat dengan mudah untuk dibersihkan, namun bau yang ditimbulkan dapat mengurangi kenyamanan. Menurut asalnya, saluran dibedakan menjadi :
a.    Saluran Alam ,meliputi selokan kecil, kali, sungai kecil dan sungai besar sampai saluran terbuka alamiah.
b.     Saluran Buatan ,seperti saluran pelayaran, irigasi, parit pembuangan, dan lain-lain. Saluran terbuka buatan mempunyai istilah yang berbeda-beda antara lain :
·         Saluran (canal) : biasanya panjang dan merupakan selokan landai yang dibuat di tanah, dapat dilapisi pasangan batu/tidak atau beton, semen, kayu maupu aspal.
·         Talang (flume) : merupakan selokan dari kayu, logam, beton/pasangan batu, biasanya disangga/terletak di atas permukaan tanah, untuk mengalirkan air berdasarkan perbedaan tinggi tekan.
·         Got miring (chute) : selokan yang curam.
·         Terjunan (drop) : seperti got miring dimana perubahan tinggi air terjadi dalam jangka pendek.
·         Gorong-gorong (culvert) : saluran tertutup (pendek) yang mengalirkan air melewati jalan raya, jalan kereta api, atau timbunan lainnya.
·         Terowongan Air Terbuka (open-flow tunnel) : selokan tertutup yang cukup panjang, dipakai untuk mengalirkan air menembus bukit/gundukan tanah.


Drainase adalah lengkungan atau saluran air di permukaan atau di bawah tanah, baik yang terbentuk secara alami maupun dibuat oleh manusia. Dalam bahasa Indonesia, drainase bisa merujuk pada parit di permukaan tanah atau gorong-gorong di bawah tanah. Drainase berperan penting untuk mengatur suplai air demi pencegahan banjir.[1]
Menurut Dr. Ir. Suripin, M.Eng., drainase adalah mengalirkan, menguras, membuang, atau mengalihkan air. Secara umum, drainase didefinisikan sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal. Drainase juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas.[2]
Drainase terbagi menjadi:[1]
  • drainase utama
  • drainase sekuder
  • drainase tersier
  • drainase laut
1.      "jenis Drainase dan permasalahanya". Diakses pada 7 Mei 2010.
2.      ^ Dr. Ir. Suripin, M. Eng (2004). Sistem Drainase Perkotaan Yang Berkelanjutan. Andi Yogyakarta.

Permasalahan drainase:
Permasalah drainase perkotaan bukanlah hal yang sederhana. Banyak faktor yang mempengaruhi dan pertimbangan yang matang dalam perencanaan, antara lain :
1. Peningkatan debit
manajemen sampah yang kurang baik memberi kontribusi percepatan pendangkalan /penyempitan saluran dan sungai. Kapasitas sungai dan saluran drainase menjadi berkurang, sehingga tidak mampu menampung debit yang terjadi, air meluap dan terjadilah genangan.
2. Peningkatan jumlah penduduk
meningkatnya jumlah penduduk perkotaan yang sangat cepat, akibat dari pertumbuhan maupun urbanisasi. Peningkayan jumlah penduduk selalu diikuti oleh penambahn infrastruktur perkotaan, disamping itu peningkatn penduduk juga selalu diikuti oleh peningkatan limbah, baik limbah cair maupun pada sampah.
3. Amblesan tanah
disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebihan, mengakibatkan beberapa bagian kota berada dibawah muka air laut pasang.
4. Penyempitan dan pendangkalan saluran
5. reklamasi
6. limbah sampah dan pasang surut
Penanganan drainase perkotaan :
1. Diadakan penyuluhan akan pentingnya kesadaran membuang sampah
2. Dibuat bak pengontrol serta saringan agar sampah yang masuk ke drainase dapat dibuang dengan cepat agar tidak mengendap
3. pemberian sanksi kepada siapapun yang melanggar aturan terutama     pembuangan sampah sembarangan agar masyarakat mengetahui pentingnya melanggar drainase.
4. Peningkatan daya guna air, meminimalkan kerugian serta memperbaiki     konservasi lingkungan.
5. Mengelola limpasan dengan cara mengembangkan fasilitas untuk menahan air hujan, menyimpan air hujan maupun pembuatan fasilitas resapan.


Selasa, 18 November 2014

Makalah Struktur Baja 1 Tentang Metode Pemasangan Jembatan Dengan Perancah

TUGAS MAKALAH
STRUKTUR BAJA I
 “ JEMBATAN METODE PEMASANGAN PERANCAH “




KONSTRUKSI SIPIL 2C


·        MARIA SEPTIASNI SELLY MARTINS     (3.12.12.2.13)
·        M. CHAIRUL FAJAR                      (3.12.12.2.14)
·        M. ISSAK AL KINDI                     (3.12.12.2.15)
·        ROSALIA OKTAVIADI                     (3.12.12.2.18)
·        TOMI YANUARISKA                       (3.12.12.2.19)
·        YANA ADITYA FINDASTA                  (3.12.12.2.21)





POLITEKNIK NEGERI SEMARANG


KATA PENGANTAR



Assalamu’alaikum Wr. Wb.


Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul "JEMBATAN BAJA METODE PEMASANGAN PERANCAH".


Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: Kedua orang tua dan Bapak Setijaka selaku dosen  struktur baja I yang telah memberikan dukungan, kasih, dan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.

Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar skripsi ini dapat lebih baik lagi.

Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.


Semarang, 18 September 2013




Penyusun

   



BAB 1
PENDAHULUAN


1.1  LATAR BELAKANG

Jembatan merupakan suatu konstruksi yang gunanya untuk meneruskan jalan melalui suatu rintangan yang berada lebih rendah, dimana rintangan ini biasanya jalan berupa lain yaitu jalan air atau jalan lalu lintas biasa (Struyk, 1995). Jembatan memiliki arti penting bagi setiap orang, dengan tingkat kepentingan yang berbeda-beda tiap orangnya (Supriyadi, 2000). Menurut Dr. Ir. Bambang Supriyadi, jembatan bukan hanya kontruksi yang berfungsi menghubungkan suatu tempat ke tempat lain akibat terhalangnya suatu rintangan, namun jembatan merupakan suatu sistem transportasi, jika jembatan runtuh maka sistem akan lumpuh.

Tipe jembatan mengalami perkembangan yang sejalan dengan sejarah peradaban manusia, dari tipe yang sederhana sampai dengan tipe yang kompleks, dengan material yang sederhana sampai dengan material yang modern. Jenis jembatan yang terus berkembang dan beraneka ragam mengakibatkan seorang perencana harus tepat memilih jenis jembatan yang sesuai dengan tempat tertentu.

Perencanaan sebuah jembatan menjadi hal yang penting, terutama dalam menentukan jenis jembatan apa yang tepat untuk dibangun di tempat tertentu dan metode pelaksanaan apa yang akan digunakan. Penggunaan metode yang tepat, praktis, cepat dan aman, sangat membantu dalam penyelesaian pekerjaan pada suatu proyek konstruksi. Sehingga, target 3T yaitu tepat mutu/kualitas, tepat biaya/kuantitas dan tepat waktu sebagaimana ditetapkan, dapat tercapai.

1.2 RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Bagaimana metode pelaksanaan yang digunakan dalam suatu proyek konstruksi Jembatan.
2. Bagaimana metode pelaksanaan Jembatan Rangka




1.3 TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui metode pelaksanaan yang digunakan dalam suatu proyek konstruksi Jembatan.
2. Untuk mengetahui metode pelaksanaan yang digunakan pada Jembatan Rangka

1.4 BATASAN MASALAH
Dalam penyusunan makalah ini, batasan masalah yang digunakan yaitu
hanya meninjau metode pelaksanaan konstruksi Jembatan pada struktur utama.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PENGERTIAN JEMBATAN RANGKA BAJA

Jembatan rangka baja adalah struktur jembatan yang terdiri dari rangkaian batang batang baja yang dihubungkan satu dengan yang lain.

            Beban atau muatan yang dipikul oleh struktur ini akan diuraikan dan disalurkan kepada batang batang baja struktur tersebut, sebagai gaya gaya tekan dan tarik, melalui titik titik pertemuan batang (Titik Buhul). Gaya gaya eksentrisitas yang dapat menimbulkan momen sekunder selalu dihindari. Oleh karena itu garis netral tiap tiap batang yang bertemu pada titik buhul harus saling berpotongan pada satu titik saja, untuk menghindari timbulnya momen sekunder.

            Dengan demikian ada hal hal penting yang perlu diperhatikan pada konstruksi rangka baja yaitu :
  • ·         Mutu dan dimensi tiap tiap batang harus kuat menahan gaya yang timbul. Batang batang dalam keadaan tidak rusak/bengkok dan sebagainya. Oleh karena itu batang batang rangka jembatan harus dijaga selama pengangkutan, penyimpanan, dan pemasangan.
  • ·         Kekuatan pelat penyambung harus lebih besar daripada batang yang disambung (Struktur sambungan harus lebih kuat dari batang utuh).
  • ·         Untuk mencegah terjadinya eksentrisitas gaya yang dapat menyebabkan momen sekunder, maka garis netral tiap batang yang bertemu harus berpotongan melalui satu titik (harus merencanakan bentuk pelat buhul yang tepat).
Pelat buhul yang paling ujung, baik pelat buhul bawah maupun atas, Biasanya panjangnya dilebihi, untuk keperluan penyambungan dengan linking steel bila diperlukan.


2.2 MACAM JEMBATAN RANGKA BAJA

Macam jembatan rangka baja
            Ada berbagai macam jembatan rangka baja ditinjau dari negara pembuatnya, yaitu :
  • ·         Jembatan rangka Belanda
  • ·         Jembatan rangka Australia
  • ·         Jembatan rangka Jepang
  • ·         Jembatan rangka inggris

2.3 METODE PEMASANGAN

Macam Metode
            Ada 4 (empat) metode yang dapat digunakan untuk pekerjaan pemasangan/penyetelan perangkat jembatan rangka baja yaitu :
1.      Pemasangan dengan cara memakai perancah.
2.      Pemasangan dengan cara cantilever (pemasangan konsol sepotong demi
         sepotong.
3.      Pemasangan dengan cara peluncuran.
a. Bentang tunggal.
b. Bentang lebih dari satu.
4.      Kombinasi dari ketiga cara di atas.

2.4 KRITERIA PEMILIHAN METODE
            Dari berbagai cara tersebut perlu dipilih  cara yang paling sesuai dengan keadaan pekerjaan yang akan dihadapi.

            Ada beberapa hal yang dipertimbangkan pada waktu menentukan cara pemasangan jembatan yang paling sesuai, yaitu :

1)      Kondisi/sungai ditempat jembatan akan dibangun, misalnya lebar, sempit, dalam, dangkal, berarus deras, banyak mengandung batu/karang, berpasir dan sebagainya.

2)      Daerah sekitar dan jalan yang menyambung ke jembatan, lurus, rata, miring, berbelok, berada pada dasar suatu galian atau berada diatas timbunan, tinggi, rendah, dan sebagainya.

3)      Apakah material, mesin-mesin/peralatan, dan tenaga kerja cukup tersedia di sekitar lokasi jembatan, atau harus didatangkanndari tempat yang cukup jauh.

4)      Bagaimana cara untuk mencapai lokasi jembatan, baik untuk orang, material maupun peralatan, melalui darat, sungai atau udara.

5)      Jumlah bentang rangka baja yang akan dipasang.

Menggunakan Perancah.

          Metode menggunakan perancah dipilih bila keadaan sungai sebagai berikut :
  • Dasar Sungai berpasir, atau lempung atau tanah keras, sehingga memudahkan pemasangan tiang perancha.
  • Dangkal, atau tidak terlalu dalam, sehingga tidak memerlukan tiang perancah yang terlalu tinggi.
  • Kecepatan arus rendah, yang akan mengurangi gaya gaya mendatar terhadap tiang perancah.
  • Bebas dari barang hanyutan, yang bisa merusak atau merobohkan tiang perancah.
  • Terdapat bangunan lama, yang dapat dipakai sebagai penyangga sementara bagi bangunan/jembatan baru yang akan dibangun.



BAB III

3.1 PENGERTIAN PERANCAH

Pengertian Perancah atau Scaffolding dan Jenisnya Perancah (scaffolding) atau steger merupakan konstruksi pembantu pada pekerjaan bangunan gedung.
Perancah dibuat apabila pekerjaan bangunan gedung sudah mencapai ketinggian 2 meter dan tidak dapat dijangkau oleh pekerja. Perancah adalah work platform sementara. Perancah (scaffolding) adalah suatu struktur sementara yang digunakan untuk menyangga manusia dan material dalam konstruksi atau perbaikan gedung dan bangunan-bangunan besar lainnya.

Biasanya perancah berbentuk suatu sistem modular dari pipa atau tabung logam, meskipun juga dapat menggunakan bahan-bahan lain. Di beberapa negara Asia seperti RRC dan Indonesia, bambu masih digunakan sebagai perancah. Scaffolding sendiri terbuat dari pipa - pipa besi yang dibentuk sedemikian rupa sehingga mempunyai kekuatan untuk menopang beban yang ada di atasnya.

Dalam pengerjaan suatu proyek, butuh atau tidaknya penggunaan scaffolding bisa tergantung kepada pemilik proyek. Karena adanya perbedaan antara biaya menggunakan bambu dan scaffolding. Scaffolding digunakan sebagai pengganti bambu dalam membangun suatu proyek. Keuntungan penggunaan scaffolding ini adalah penghematan biaya dan efisiensi waktu pemasangan scaffolding.

Ada tiga type dasar :

·         Supported scaffolds, yaitu platform yang disangga oleh tiang, yang dilengkapi dengan pendukung lain seperti sambungan-sambungan, kaki-kaki, kerangka-kerangka dan outriggers
·         Suspended scaffolds, yaitu platform tergantung dengan tali atau lainnya
·         Aerial Lifts, penopang untuk mengangkat seperti “Man Baskets” atau keranjang manusia

Fungsi Perancah

Sebagai tempat untuk bekerja yang aman bagi tukang / pekerja sehingga keselamatan kerja terjamin. Sebagai pelindung bagi pekerja yang lain, seperti pekerja di bawah harus terlindung dari jatuhnya bahan atau alat.


3.2 JENIS PERANCAH

Jenis Perancah

1. Perancah Andang.
Perancah atau andang digunakan pada pekerjaan yang tingginya 2,5 – 3 m. Apabila pekerjaan lebih tinggi maka tidak digunakan andang lagi.


Macam - macam perancah andang:
·         Perancah andang kayu cara membuatnya cepat dan dapat dipindah pindahkan. Untuk tinggi perancah tetap tidak dapat disetel. Biasanya pada pekerjaan yang tingginya tidak lebih dari 3 m, untuk pekerjaan lebih tinggi dari 3 m menggunakan perancah tiang.

·         

Perancah andang bambu dapat dipindah-pindah dan sebagai pengikatnya memakai tali ijuk, karena tali ijuk ini tahan terhadap air, panas dsb. Pada perancah andang bambu ini sudah disetel terlebih dahulu, sehingga tinggi dan panjangnya tidak dapat distel kembali. Biasanya andang bambu dapat dipakai pada ketinggian pekerjaan tidak lebih dari 3 m, mengenai kaki andang bambu ada yang pakai 2 atau 3 pasang.          

·         Perancah besi sangat praktis dan efisien karena pemasangannya mudah dan dapat dipindah-pindahkan.Tinggi perancah besi dapat disetel untuk jarak kaki perancah yang satu dengan yang lain hingga 180 cm dengan tebal papan 3cm.

2. Perancah Tiang.
Perancah tiang digunakan apabila pekerjaan sudah mencapai diatas 3 m, Perancah tiang bisa dibuat sampai 10 m lebih tergantung dari kebutuhan. Perancah tiang ada 3 macam:



a.Perancah tiang dari bambu.

 Pada umumnya perancah bambu banyak dipakai oleh pekerja di lapangan, baik pada bangunan bertingkat maupun tidak. Alasannya adalah: Bambu mudah didapat, kuat, dan murah. Pemasangan perancah bambu mudah dibongkar dan dapat dipasang kembali tanpa merusak bambu. Bahan pengikatnya pakai tali ijuk.
b. Sistem perancah bambu dengan konsol dari besi.
Sistem perancah bambu dengan konsol besi hanya ditahan oleh satu tiang     

bambu saja, berbeda dengan perancah yang ditahan oleh beberapa tiang.

Keuntungannya adalah sbb :

·       Tidak terlalu banyak bambu yang dibutuhkan,
·       Cara pemasangannya lebih cepat daripada perancah bambu,
·       Lebih praktis dan menghemat tempat.
·       Pemasangan konsol dapat dipindah dari tingkat 1 ketingkat diatasnya,
·       Untuk tiang bambu tidak perlu dipotong,
c. Perancah tiang besi atau pipa.

Pada perancah tiang dari besi atau pipa alat penyambungnya memakai
     kopling, untuk penyetelannya lebih cepat dibandingkan  perancah tiang bambu.

3. Perancah Besi Beroda
 Perancah besi beroda ini terbuat dari pipa galvanis. Pada perancah besi beroda dapat dipasang di lapangan atau didalam ruangan. Fungsi rodanya  adalah untuk memindahkan perancah. Pada perancah besi beroda sedikit lain dari perancah yang ada, karena disini bagian-bagian dari tiangnya sudah berbentuk kusen, sehingga penyetelan / pemasangannya lebih mudah dan praktis.

4. Perancah Besi tanpa Roda.

 Perancah ini terdiri dari komponen-komponen; Kaki pipa berulir, kusen bangunan, penguat vertikal, tiang sandaran, sambungan pasak, papan panggung, panggung datar, Papan pengaman, tiang sandaran, penutup sandaran, konsol penyambung, penopang, konsol keluar, tiang sandaran tangga, pinggiran tangga, anak tangga, sandaran tangga, dan sandaran dobel.

5. Perancah Menggantung
 Pada perancah menggantung digunakan pada pekerjaan pemasangan eternit, pekerjaan finishing pengecatan eternit, plat beton, dst. Jadi perancah menggantung digunakan pada pekerjaan bagian atas saja dan pelaksanaannya perancah digantungkan pada bagian atas bangunan dengan memakai tali atau rantai besi. 


6. Perancah Frame
Frame ini biasanya terbuat dari pipa atau tabung logam. Perancah ini dapat disusun sedemikian rupa menjadi satu kesatuan perancah yang tinggi untuk menopang pekerja dalam kegiatan konstruksi berlokasi tinggi.

7. Perancah Dolken
Merupakan perancah yang berbahan kayu dolken. Kayu bulat/ dolken Biasanya digunakan untuk tiang-tiang perancah dan ukuran yang biasanya digunakan adalah berdiameter 6 – 10 cm.

8. Two Point Adjustable Suspension Scaffold

9. Strip Board One Side Scaffold


10. Auxiliary Fixtures For Pipe Scaffolding

11. Bracket One Side Scaffold

12. Independent Scaffold
 Suatu perancah dengan dua baris standar jarak 1.2m
    Mempunyai daya dukung sendiri

    Satu baris mendukung bagian luar dan bagian dalam dari deck dengan jarak 1.2m hingga 2.4m
    Balok lintang tidak dipasang ke dinding dari gedung.
    Tetapi tidak berdiri sendiri, ini ditopang oleh struktur gedung
    Independent scaffold memerlukan ties untuk stabilitas lateral.
    Tanpa beban vertikal yang dialihkan pada gedung.
    Pasangan standards yang dihubungkan dengan gedung
    sejajar horizontal dengan horizontal tubes called ledgers.
    Ledgers berjarak vertikal pada the working height of 2m.
    Bagian dalam dan luar dari standar (tiang) dihubungkan dengan dengan transoms.
    Transoms umumnya dihubungkan dengan dengan standar di atas ledgers.
    Transoms dapat berjarak dari tiang 250mm untuk menyesuaikan panjang papan.


13. Birdcage Scaffold
    Terdiri dari dua baris tiang yang semuanya dihubungkan dengan Ledgers, Transoms and Braces
    Biasanya digunakan pada pemasangan plafon dan pengecatan.
    Hand rail and toe boards dipasang di bagian luar dari perimeter dari  scaffold platform

14. Access Tower Scaffold
    Scaffold yang hanya digunakan untuk access.
    Digunakan untuk menimbun material atau peralatan tidak diperbolehkan.
    Dibangun dengan pipa-pipa dan fittings atau berupa modul-modul A-Frames.
    Terutama digunakan untuk safe access to elevated areas.
    Access menggunakan tangga atau papan-papan
    Aluminium steps setiap level.
    Tidak diperuntukkan sebagai papan kerja.
    Tergantug dari tingginya access tower umumnya ringan dan digunakan untuk medium duty.
    Bila lebih dari 15m harus diperhitungkan dan di setujui penanggung jawab.
    Handrail, mid-rails and kick boards harus dipasang pada setiap level.
    Tower harus dikencangkan (secured) dengan gedung atau structure setiap dua lift.
    Tower tidak dapat berdiri sendiri.
    Pembebanan peralatan or materials menggunakan tower ini tidak praktis.
    Ladders harus bersandar pada sudut 1-4 lean, not vertical
    Ladders harus dikencangkan pada top and bottom.

15.  Cantilever Scaffold

    Cantilever scaffold ditopangkan atau disangga pada salah satu ujungnya
    Cantilever scaffold umumnya dibangun dengan pipa (tubular) dan fittings, tetapi sistem lain dari scaffod dapat digunakan juga.

16. Putlog Scaffold

    Ditumpu oleh jajaran tiang sebelah dan yang sebelah ditopang oleh gedung, berbeda dari independent scaffold.
    Jajaran tiang berjarak from 1.5 to 2.1m apart.
    Scaffold didirikan 1.2 m dari dinding structure
    Ledgers dipasang pada tiang
    Ketinggian Lift 1.8 to 2m.
    Putlog tubes dipasang (ditempelkan) pada tiang.
    Panjang pipa (Transoms) 1.5m

17. Suspended Scaffold
    Suspended scaffold ditopang dari atas
    Tidak ada penyangga dari bawah
    Digunakan pada bukaan yang tinggi
    Panjang suspended scaffold tidak boleh lebih dari 6m
    Semua suspended tubes perlu selalu diperiksa safety fittings
    Digunakan terutama pada tempat di atas air dimana scaffolding tidak dapat dibangunan di atas tanah

18. Mobile Scaffold
    Mobile work platform digunakan pekerjaan yang pindah dari satu tempat ke tempat lain
    Alasnya harus 2 kali lipat tingginya untuk  yang lebih tinggi lebih dari 3 m
    Tiang-tiangnya dipasang dengan roda
    Penggunaan ban (berisi angin) tidak diperkenankan
    Caster wheels harus mempunyai manual brake untuk lock wheels in place.
    Biasanya menggunakan concrete floors atau hard surfaces untuk mempermudah  
    moveability

contoh mobile scaffold:
·         Castor wheels (roda) harus mempunyai locking brake
·         Jumlah roda tidak dibatasi sesuai kebutuhan
·         Ladder access dapat ditambahkan
·         Plan, side and heel and toe bracing harus dipasang sebagai bagian dari scaffold


3.3 URUTAN PELAKSANAAN METODE PERANCAH

Sistem  Perancah Falsework
            Urutan  pelaksanaan sistem ini dapat  di uraikan sebagai berikut :
Ø  Dilakukan pekerjaan-pekerjaan persiapan seperti yang di lakukan nomer 8

Ø  

Pasang tanda As jembatan pada perletakan jembatan(abutment/pilar).Kemudian berdasarkan As tersbut tetapkan tanda letak sisi rangka jembatan .

Ø  

Pasang balok -balok ganjal sementara di bawah titik buhul ujung jembatan ,setinggi kebutuhan,sehingga cukup untuk mengatur  pemasangan struktur perletakan jembatan .Untuk kestabilan usahakan ganjal jangan terlalu tinggi

Ø  Berpedoman pada As sisi rangka baja,perancah dipasang pada tiap titik buhul yang akan di dukung .Khusus untuk titik buhul yang memiliki baut vertical ,perancah di geser sedikit agar  proses pemasang baut vertical tersebut tidak mengalami kesulitan .Bila dasar sungai lunak ,tiang –tiang perancah perlu di pancang secukupnya agar kuat mendukung beban selama pemasangan .Bila dasar sungai keras ,dapat diletakkan saja secara merata  dan  dilindungi kakinya dengan bronjong batu /tumpukkan batu /beton cor
Ø  Elevasi perancah pada masing-masing titik buhul harus di sesuaikan dngan perencanaan jembatan ( beda elevasinya ).
Ø  Perancah pendukung titik buhul sisi kiri di hubungkan dengan perancah pendukung sisi kanan.kemudian tiap baris di hubungkan dengan balok seperlunya untuk jalan orang dan transpotasi komponen jembatan .
Ø  Batang - batang bawah rangka baja di pasang lebih dulu sepanjang jembatan ,kemudian di ikuti di ikuti batang-batang yang lain .Transportasi horizontal batang-batang rangka baja melalui jembatan penghubung perancah ,sedang transpotasi vertical ( pengangkatan) dapat menggunakan alat takal dan Derek ( crane).urutan pemasangan batang-batangnya dapat di liahat pada contoh seketsa di bawah ini.
Prinsip urutan pemasangan yang mula pertama seluruh batang bawah (B1 s/d B7),kemudian batang D1 & D2 ,di lanjutkan D3 & D4 kemudian di hungkan dengan A1 dst.
Pengencangan baut di laksanakan secara bertahap ( dua tahap ) yaitu :
1.      Tahap I pada saat erection ,pengencangan antara 70% sampai 80% atau sekuat tenaga manusia.
2.      Tahap II pada saat erection pengencangan baut sudah selesai di lanjutkan sampai mencapai kekencangan sampai 100% semua baut yang dikencangkan sesuai syarat kekncangannya di beri tanda dengan cat,untuk memudahkan pemeriksaan bila terjadi perubahan ( kendor ) beton slab di cor pada saat jembatan di atas ganjal .
Ø  Bila semua batang telah tersusun dan kekuatan sambungan ( baut ) telah cukup persyaratan ,serta beton slab telah cukup keras maka kedua ujung di angkat sedikit dengan jack / dongkrak ,untuk melepas balok ganjal ( baik yang ada di perletakan maupun ada perancah ).
Ø  Setelah bearing pad di pasang dengan baik maka jembatan di turunkan kembali, di dudukan di perletakannya dengan menurunkan jack secara pelan-pelan .
Ø  Untuk keperluan pengecoran laintai beton bekisting / formwork dapat di tumpukan pada batang baja melintang .setabilitas tumpuan bekisting di perkuat dengan pemasangan baji yang di paku satu dengan yang lain .
Ø  Pengecoran lantai disarankan dimulai dari setengah bentang jembatan , kearah ke dua tepi perletakan , secara seimbang (bergantian) ,agar timbul gaya- gaya yang simetris.
Ø  Khusus jembatan rangka baja yang menggunakan rubber bearing (perletakan dari karet) ,pengecoran lantai beton jembatan di lakukan pada saat jembatan masih di dudukan pada ganjal (perletakan sementara) bila pengecoran lantai beton di lakukan pada saat jembatan terletak di atas rubber bearing maka akan terjadi gaya geser yang cukup besar pada rubber bearing ,yang dapat mengakibatkan pecahnya rubber bearing .
Ø  Bila pengecoran beton lantai di lakukan setelah jembatan di letakan di atas rubber bearing maka akan terjadi deformasi pada rubber bearing .Beton lantai di cor dengan posisi rubber bearing bebas ( jembatan di tahan oleh jack/dongkrak ), setelah pengecoran selesai jembatan di letakkan pada rubber bearing tidak mengalami deformasi ( masih utuh ).